Gaduh dan ribut di parlemen kita telah terjadi.
Pimpinan DPR disomasi tidak percaya oleh Koalisi Indonesia Hebat. Namapaknya cerita panjang dari perubahan UU MD3 secara terburu buru karena kepentingan Politik Juli kemaren oleh Koalisi Merah Putih, kini memasuki babak baru lagi di parlemen.
Setelah terjadi kegaduhan dalam pemilihan Ketua DPR, lanjut ke soal pemilihan Ketua MPR, kini kegaduhan pada pemilihan perlengkapan Dewan yaitu pemilihan Ketua Komisi kembali mewarnai parlemen kita.
UU MD3, sempat di uji Materi di MK, tapi hasilnya MK menolak gugatan JR.
Nampaknya MK pada saat memutuskan menolak gugatan JR kemaren itu tidak menyangka jadi seperti sekarang ini kejadiannya di Parlemen.
Koalisi Indonesia Hebat ( KIH ) malah sudah mulai mengusulkan pada Presiden untuk mengeluarkan Perppu. Kalau begini, kemungkinan bakalan tambah gaduh dan ribut ini .....?
Dahulu, dari Koalisi Merah Putih ( KMP) sempat mengatakan kembali ke sila 4 di Panca Sila yakni Musawarah Mufakat, tetapi malah sekarang kelihatan tak mau mufakat, sehingga keputusan selalu dikehendaki melalui votting, sehingga sangat jelas voting akan dimenangkan oleh KMP.
Rakyat mungkin akan dapat mencatat tak layak lirik partai partai yang tergabung di KMP di 2019.
Partai-partai yang tergabung di KMP yaitu : Gerindra, Golkar,PKS, Demokrat, PAN bisa-bisa akan
dijauhi oleh rakyat, baik partai partai dan orang orangnya.
Berbeda dengan di parlemen, kontroversi terjadi juga di dalam susunan Kabinet Kerja Jokowi-Yusuf Kalla.
Seorang menteri, dipilih dengan kapasitas hanya berijazah SMP, berpenampilan eksentrik, bertatto dan perokok berat pula tampaknya.
Beliau adalah Ibu Menteri Perikanan dan Kelautan kita yang bernama Susi Pudjiastuti.
Banyak yang mempersoalkan rendahnya ijazah yang dipegang oleh beliau. Banyak juga yang mempersoalkan penampilan beliau yang berttato serta perokok.
Tetapi, dibalik semua tentang urusan privat beliau, beliau adalah orang yang patut menjadi contoh seorang yang memiliki integritas dalam upaya menjadi seorang yang memiliki jiwa dan mental super power. Karena, dibalik keberadaan pribadi beliau, ada sesuatu yang sangat menginspirasi kita dan dapat dijadikan pelajaran yaitu tentang bagaimana beliau dapat berhasil menjadi besar dari awal yang kecil.
Kini usahanya telah berkembang lebih besar lagi dengan mengusahakan tidak kurang dari 50 buah pesawat.
Nah, kalau di legislatif rakyat mendapat suguhan tentang kegaduhan yang mengancam kericuhan dunia politik, yang ujung-ujungnya dapat mengganggu jalannya pemerintahan, maka kita masih dapat bersyukur karena Presiden Jokowi memberikan pelajaran yang berharga kepada kita lewat jargon Revolusi mental dengan menunjuk seorang menteri yang sangat inpiratif yaitu Ibu Susi Pudjiastuti.
Pada perayaan sumpah Pemuda, Ibu Susi menulis surat untuk seluruh pemuda Bangsa ini sebagai berikut:
Pemuda pemimpin masa depan
Inilah sepenggal kisah dari saya;
Saya mengenal dunia usaha sejak remaja. Tepatnya sejak saya memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah tahun 1982. Waktu itu saya baru kelas 2 SMA.
Saya sadar dengan hanya berbekal ijazah SMP, tak akan ada satupun perusahaan yang mau mempekerjakan saya. Kalaupun ada hanya sebatas sebagai cleaning service.
Tapi pada saat itu saya yakin bahwa putus sekolah bukanlah akhir dari segalanya. Meskipun mungkin keputusan itu salah; saya tidak pernah menyesalinya.
Yang saya sangat tahu waktu itu adalah "School was just not my thing". Saya selalu punya keyakinan kalau kita mau berbuat sesuatu pasti akan ada jalan, saya selalu percaya bahwa manusia diberi pilihan untuk menciptakan jalan hidup yang dipilihnya.
Saya ciptakan sebuah usaha, pekerjaan yang yakin akan menghasilkan uang, di mana akhirnya saya tidak harus bergantung dengan orang lain.
Saya tidak suka ketergantungan, karena ketergantungan akan mengurangi kemandirian. Tanpa kemandirian kita akan selalu dalam keterbatasan dalam menciptakan atau mengerjakan sesuatu, sehingga akhirnya hasilnya tidak sesuai dengan yang kita rencanakan.
Kehidupan nelayan di Pangandaran dan pesisir Pantai Selatan Jawa, begitu keras dan penuh resiko, dinihari melaut siang/sore baru pulang, setiap hari tidak peduli ombak atau cuaca untuk sebuah keyakinan.
Ini banyak memberikan kepada saya keyakinan & lebih mengerti makna hidup adalah sebuah keyakinan.
Masa-masa itu untuk bertahan hidup saya jualan Bed Cover, cengkeh, hingga akhirnya menjual ikan hasil tangkapan para nelayan. Pokoknya apa saja yang bisa saya kerjakan akan saya kerjakan.
Ketika pada akhirnya saya fokus di bisnis hasil tangkapan Lobster nelayan, peluang besar itu akhirnya datang. Tantangannya adalah saya harus membawa Lobster hidup dari Pangadaran ke Jakarta untuk diekspor ke luar negeri.
Perjalanan yang jauh, berjam-jam membuat angka kematian sangat tinggi. Hal ini membuat saya bertekad menerbangkan lobster-lobster hidup tadi dengan pesawat kecil ke Jakarta.
Para pemimpin masa depan, dalam hidup ini kita juga harus berani mengambil resiko.
Ini terjadi ketika saya kembali nekat memutuskan mendaratkan pesawat kecil saya di Meulaboh dan Pulau Simeuleu, setelah tsunami menggerus pesisir timur propinsi NAD.
Semua orang tergerak untuk membantu, termasuk saya. Tanpa izin terbang bahkan ijin operasi, tanpa kepastian bisa mendarat atau tidak, saya akhirnya bisa meyakinkan semua pihak, Meulaboh bisa ditembus lewat udara.
Dan sejak hari itu bantuan mengalir ke sana. Ini bukanlah kisah heroik saya.
Namun, ada perasaan "Hangat" (saya merasakan "good feeling" yang luar biasa!) menyusup ke dalam hati kita, ketika kita mampu berbuat sesuatu untuk orang lain karena kita bisa & memutuskan untuk melakukannya.
Keyakinan, keberanian seperti inilah yang membuat saya bertahan dan menjadi seperti sekarang ini; membawa pesawat-pesawat kecil saya menembus pedalaman, pelosok Indonesia.
Pemimpin masa depan, saya tahu tidaklah mudah memulai sebuah usaha di negeri kita tercinta ini.
Begitu banyak barikade yang harus kita hadapi, dari regulasi yang tidak fleksibel, paper work exercise yang berlapis yang mencekik kita, bahkan setelah kita menjadi sebesar sekarang.
Tapi itulah tantangan kita, untuk membuat lingkungan usaha lebih kondusif bagi semua pihak, untuk menciptakan lapangan kerja dan kesempatan untuk lebih banyak anak bangsa.
Yang saya lakukan hanyalah sebagian dari tujuan kita untuk menjadi bagian Indonesia. Memudahkan, mendekatkan anak-anak bangsa dengan ibu kota, atau kabupaten dengan propinsi.
Mengubah hari perjalanan menjadi hanya satu jam atau dua jam saja. Ikut berpartisipasi menjaga NKRI.
Pesan saya untuk para pemimpin masa depan: mulailah ubah pola pikir kita, untuk selalu mau bekerja keras jangan berleha-leha.
Sangatlah tidak pantas di negeri yang kaya raya; kita menjadi miskin. Seperti tikus mati di lumbung padi. Sumber daya apa yang kita tidak punyai di negeri ini?
Saya tahu saya orang yang tidak mau diatur, diperintah atau disuruh untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, tapi itulah yang membuat saya menjadi manusia dengan pikiran merdeka.
Pemimpin masa depan, yakinlah keberhasilan kita untuk masa depan bangsa kita hanya kita dapatkan dengan jiwa & pikiran yang merdeka & mandiri.
Selamat berjuang.
Salam hangat,
Susi Pudjiastuti.
Pimpinan DPR disomasi tidak percaya oleh Koalisi Indonesia Hebat. Namapaknya cerita panjang dari perubahan UU MD3 secara terburu buru karena kepentingan Politik Juli kemaren oleh Koalisi Merah Putih, kini memasuki babak baru lagi di parlemen.
Setelah terjadi kegaduhan dalam pemilihan Ketua DPR, lanjut ke soal pemilihan Ketua MPR, kini kegaduhan pada pemilihan perlengkapan Dewan yaitu pemilihan Ketua Komisi kembali mewarnai parlemen kita.
UU MD3, sempat di uji Materi di MK, tapi hasilnya MK menolak gugatan JR.
Nampaknya MK pada saat memutuskan menolak gugatan JR kemaren itu tidak menyangka jadi seperti sekarang ini kejadiannya di Parlemen.
Koalisi Indonesia Hebat ( KIH ) malah sudah mulai mengusulkan pada Presiden untuk mengeluarkan Perppu. Kalau begini, kemungkinan bakalan tambah gaduh dan ribut ini .....?
Dahulu, dari Koalisi Merah Putih ( KMP) sempat mengatakan kembali ke sila 4 di Panca Sila yakni Musawarah Mufakat, tetapi malah sekarang kelihatan tak mau mufakat, sehingga keputusan selalu dikehendaki melalui votting, sehingga sangat jelas voting akan dimenangkan oleh KMP.
Rakyat mungkin akan dapat mencatat tak layak lirik partai partai yang tergabung di KMP di 2019.
Partai-partai yang tergabung di KMP yaitu : Gerindra, Golkar,PKS, Demokrat, PAN bisa-bisa akan
dijauhi oleh rakyat, baik partai partai dan orang orangnya.
Berbeda dengan di parlemen, kontroversi terjadi juga di dalam susunan Kabinet Kerja Jokowi-Yusuf Kalla.
Seorang menteri, dipilih dengan kapasitas hanya berijazah SMP, berpenampilan eksentrik, bertatto dan perokok berat pula tampaknya.
Beliau adalah Ibu Menteri Perikanan dan Kelautan kita yang bernama Susi Pudjiastuti.
Banyak yang mempersoalkan rendahnya ijazah yang dipegang oleh beliau. Banyak juga yang mempersoalkan penampilan beliau yang berttato serta perokok.
Tetapi, dibalik semua tentang urusan privat beliau, beliau adalah orang yang patut menjadi contoh seorang yang memiliki integritas dalam upaya menjadi seorang yang memiliki jiwa dan mental super power. Karena, dibalik keberadaan pribadi beliau, ada sesuatu yang sangat menginspirasi kita dan dapat dijadikan pelajaran yaitu tentang bagaimana beliau dapat berhasil menjadi besar dari awal yang kecil.
Yang isitimewa, Susi hanya memiliki ijazah SMP. Setamat SMP ia sempat melanjutkan
pendidikan ke SMA. Namun, di kelas II SMAN Yogyakarta dia berhenti
sekolah karena dikeluarkan dari sekolah lantaran keaktifannya dalam
gerakan Golput.
Setelah tidak lagi bersekolah, dengan modal Rp750 ribu
hasil menjual perhiasan, pada 1983 Susi mengawali profesi sebagai
pengepul ikan di Pangandaran. Bisnisnya terus berkembang, dan pada 1996
Susi mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product
dengan produk unggulan berupa lobster dengan merek "Susi Brand".
Ketika bisnis pengolahan ikannya meluas dengan pasar hingga ke Asia
dan Amerika, Susi memerlukan sarana transportasi udara yang dapat dengan
cepat mengangkut lobster, ikan, dan hasil laut lain kepada pembeli
dalam keadaan masih segar.
Didukung suaminya, Christian von Strombeck, seorang Jerman yang lama
bekerja sebagai mekanik pesawat dan pilot di Indonesia, pada 2004 Susi
memutuskan membeli sebuah Cessna Caravan seharga Rp20 Miliar menggunakan
pinjaman bank.
Melalui PT. ASI Pudjiastuti Aviation yang ia dirikan kemudian,
satu-satunya pesawat yang ia miliki itu ia gunakan untuk mengangkut
lobster dan ikan segar tangkapan nelayan di berbagai pantai di Indonesia
ke pasar Jakarta dan Jepang.
Kini usahanya telah berkembang lebih besar lagi dengan mengusahakan tidak kurang dari 50 buah pesawat.
Nah, kalau di legislatif rakyat mendapat suguhan tentang kegaduhan yang mengancam kericuhan dunia politik, yang ujung-ujungnya dapat mengganggu jalannya pemerintahan, maka kita masih dapat bersyukur karena Presiden Jokowi memberikan pelajaran yang berharga kepada kita lewat jargon Revolusi mental dengan menunjuk seorang menteri yang sangat inpiratif yaitu Ibu Susi Pudjiastuti.
Pada perayaan sumpah Pemuda, Ibu Susi menulis surat untuk seluruh pemuda Bangsa ini sebagai berikut:
Inilah sepenggal kisah dari saya;
Saya mengenal dunia usaha sejak remaja. Tepatnya sejak saya memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah tahun 1982. Waktu itu saya baru kelas 2 SMA.
Saya sadar dengan hanya berbekal ijazah SMP, tak akan ada satupun perusahaan yang mau mempekerjakan saya. Kalaupun ada hanya sebatas sebagai cleaning service.
Tapi pada saat itu saya yakin bahwa putus sekolah bukanlah akhir dari segalanya. Meskipun mungkin keputusan itu salah; saya tidak pernah menyesalinya.
Yang saya sangat tahu waktu itu adalah "School was just not my thing". Saya selalu punya keyakinan kalau kita mau berbuat sesuatu pasti akan ada jalan, saya selalu percaya bahwa manusia diberi pilihan untuk menciptakan jalan hidup yang dipilihnya.
Saya ciptakan sebuah usaha, pekerjaan yang yakin akan menghasilkan uang, di mana akhirnya saya tidak harus bergantung dengan orang lain.
Saya tidak suka ketergantungan, karena ketergantungan akan mengurangi kemandirian. Tanpa kemandirian kita akan selalu dalam keterbatasan dalam menciptakan atau mengerjakan sesuatu, sehingga akhirnya hasilnya tidak sesuai dengan yang kita rencanakan.
Kehidupan nelayan di Pangandaran dan pesisir Pantai Selatan Jawa, begitu keras dan penuh resiko, dinihari melaut siang/sore baru pulang, setiap hari tidak peduli ombak atau cuaca untuk sebuah keyakinan.
Ini banyak memberikan kepada saya keyakinan & lebih mengerti makna hidup adalah sebuah keyakinan.
Masa-masa itu untuk bertahan hidup saya jualan Bed Cover, cengkeh, hingga akhirnya menjual ikan hasil tangkapan para nelayan. Pokoknya apa saja yang bisa saya kerjakan akan saya kerjakan.
Ketika pada akhirnya saya fokus di bisnis hasil tangkapan Lobster nelayan, peluang besar itu akhirnya datang. Tantangannya adalah saya harus membawa Lobster hidup dari Pangadaran ke Jakarta untuk diekspor ke luar negeri.
Perjalanan yang jauh, berjam-jam membuat angka kematian sangat tinggi. Hal ini membuat saya bertekad menerbangkan lobster-lobster hidup tadi dengan pesawat kecil ke Jakarta.
Para pemimpin masa depan, dalam hidup ini kita juga harus berani mengambil resiko.
Ini terjadi ketika saya kembali nekat memutuskan mendaratkan pesawat kecil saya di Meulaboh dan Pulau Simeuleu, setelah tsunami menggerus pesisir timur propinsi NAD.
Semua orang tergerak untuk membantu, termasuk saya. Tanpa izin terbang bahkan ijin operasi, tanpa kepastian bisa mendarat atau tidak, saya akhirnya bisa meyakinkan semua pihak, Meulaboh bisa ditembus lewat udara.
Dan sejak hari itu bantuan mengalir ke sana. Ini bukanlah kisah heroik saya.
Namun, ada perasaan "Hangat" (saya merasakan "good feeling" yang luar biasa!) menyusup ke dalam hati kita, ketika kita mampu berbuat sesuatu untuk orang lain karena kita bisa & memutuskan untuk melakukannya.
Keyakinan, keberanian seperti inilah yang membuat saya bertahan dan menjadi seperti sekarang ini; membawa pesawat-pesawat kecil saya menembus pedalaman, pelosok Indonesia.
Pemimpin masa depan, saya tahu tidaklah mudah memulai sebuah usaha di negeri kita tercinta ini.
Begitu banyak barikade yang harus kita hadapi, dari regulasi yang tidak fleksibel, paper work exercise yang berlapis yang mencekik kita, bahkan setelah kita menjadi sebesar sekarang.
Tapi itulah tantangan kita, untuk membuat lingkungan usaha lebih kondusif bagi semua pihak, untuk menciptakan lapangan kerja dan kesempatan untuk lebih banyak anak bangsa.
Yang saya lakukan hanyalah sebagian dari tujuan kita untuk menjadi bagian Indonesia. Memudahkan, mendekatkan anak-anak bangsa dengan ibu kota, atau kabupaten dengan propinsi.
Mengubah hari perjalanan menjadi hanya satu jam atau dua jam saja. Ikut berpartisipasi menjaga NKRI.
Pesan saya untuk para pemimpin masa depan: mulailah ubah pola pikir kita, untuk selalu mau bekerja keras jangan berleha-leha.
Sangatlah tidak pantas di negeri yang kaya raya; kita menjadi miskin. Seperti tikus mati di lumbung padi. Sumber daya apa yang kita tidak punyai di negeri ini?
Saya tahu saya orang yang tidak mau diatur, diperintah atau disuruh untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, tapi itulah yang membuat saya menjadi manusia dengan pikiran merdeka.
Pemimpin masa depan, yakinlah keberhasilan kita untuk masa depan bangsa kita hanya kita dapatkan dengan jiwa & pikiran yang merdeka & mandiri.
Selamat berjuang.
Salam hangat,
Susi Pudjiastuti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar