Senin, 29 September 2014

Mencla-Mencle : Pelajaran Bangun Politik Penciteraan!



"Tidak satunya kata dengan perbuatan. Bicara hanya untuk penciteraan. Tidak pernah konsisten. Tidak tegas. Mencla mencle. Suka bersandiwara politik." Itulah julukan yang dialamatkan kepada Bapak Susilo Bambang Yodoyono (SBY). Tarakhir, beliau menunjukkan kepada rakyat Indonesia sandiwara politik baru. Setelah sidang Paripurna DPR RI memutuskan melaui voting UUD Pilkada melalui DPRD, dari tempat lawatannya di AS, beliau mengatakan terkejut, kecewa dan akan melakukan tuntutan ke MK untuk uji materiil Undang-Undang tersebut.   

Kronologi dari pada sandiwara adalah diperankan oleh Partai Demokrat, dimana SBY adalah Ketua Umum Partai. Dalam sidang Partai Demokrat mengajukan usulan Undang-Undang Pilkada langsung oleh rakyat dengan sepuluh perbaikan-perbaikan. Namun sutradara dalam sidang hanya mengajukan dua opsi pilihan, yaitu Pilkada langsung dan Pilkada melalui DPRD. Dengan alasan usulannya tak mendapat respon, maka Demokrat keluar alias Wolk Out dari sidang. Hal ini tentu memuluskan opsi Pilkada melalui DPRD yang diusung koalisi Merah Putih, yang notabene dengan keluarnya Demokrat berarti suara Koalisi Merah Putih menjadi sangat dominan. Begitulah akhirnya sidang memutuskan Pilkada oleh DPRD. Selanjutnya SBY memainkan sandiwara dengan dialog yang menyatakan terkejut dan kecewa. Lontaran pernyataan SBY kini mendapat respon tidak baik dari masyarakat.

Sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait UU Pilkada dinilai sejumlah kalangan sebagai sandiwara. Sebab, bagaimana bisa SBY menolak pilkada lewat DPRD, sementara hampir semua anggota Fraksi Partai Demokrat 'walk out' dalam sidang paripurna sehingga opsi pilkada langsung kalah dalam voting.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, menilai sandiwara SBY sebenarnya bukan hal baru. Dia menilai Megawati Soekarnoputri yang paling mengetahui cara bekas menterinya itu bersandiwara.

"Itu makanya Megawati konsisten untuk tidak membuka ruang-ruang komunikasi terhadap SBY, dan sekarang ternyata sikap itu ada benarnya," kata Ari dikutif dari  merdeka.com, Senin (29/9).

Sejak lengser dari kursi presiden tahun 2004, Megawati diketahui enggan membuka komunikasi dengan SBY, termasuk menghadiri upacara HUT Kemerdekaan RI di Istana Negara. Santer disebut keengganan Megawati itu karena sikap SBY yang tidak mau mengaku saat ditanya siapa saja menterinya yang akan maju di Pilpres 2004. Tidak seperti Agum Gumelar dan Hamzah Haz, SBY saat itu mengatakan tidak akan maju di Pilpres 2004.
"Semua akhirnya tahu SBY nyapres dan menang. Padahal setahu saya Megawati saat itu bertanya hanya untuk mengatur jadwal cuti para menterinya untuk kepentingan kampanye mereka," ujar Ari yang mantan wartawan ini.
Ari menilai keengganan Megawati membuka komunikasi dengan SBY karena ada perbedaan diametral yang lebar antara gaya komunikasi kedua tokoh tersebut.
"Jika Megawati bertipe 'apa adanya' serta teguh dalam berpendapat, maka SBY lekat dengan pencitraan dan tidak tegas," ujar Ari.

"Lihat saja style komunikasi SBY saat berbicara di kanal Youtube yang mendukung pilkada langsung tetapi berbeda dengan perintahnya terhadap ketua Fraksi Demokrat untuk melakukan walk out saat voting RUU Pilkada," ujar Ari.

Menurut Ari, sikap SBY yang mencla-mencle itu menjadi penyebab komentar terbaru terhadap SBY yang sedang berada Amerika Serikat (AS) untuk menghadiri sidang Majelis Umum PBB.

"Sikap yang menyesalkan proses politik RUU Pilkada di DPR serta mengaku tidak memerintahkan fraksinya untuk walk out dianggap dagelan politik dari seorang 'badut'," ucap Ari.

Menurut doktor jebolan Ilmu Komunikasi Unpad ini, ketegasan Megawati yang selama ini kerap dipandang minor oleh lawan politik dan masyarakat awam, mulai terlihat manfaatnya.

"Kini masyarakat mendapat pembelajaran yang berharga soal tipikal kepemimpinan nasional. Selama sepuluh tahun rezim SBY, kita sudah muak mendapat tontonan dari SBY di mana antara kata dan perbuatan sangat bertolak belakang. Akibatnya, para menteri di kabinet-kabinet SBY selalu mengikuti gaya patronnya," ujar dia.

"Kita sekarang tidak bangga punya SBY karena menjadi motor matinya demokrasi yang telah diperjuangkan lewat reformasi. Pantaslah kalau SBY disebut sebagai Bapak Pilkada Tidak Langsung. Sebuah gelaran yang sangat memalukan di senjakala masa jabatannya," sergah Ari yang juga pengajar S2 Universitas Diponegoro (Undip) itu.

Nah, tentu ada pelajaran yang bisa dipetik dari sikap mencla-menclenya SBY tersebut, yaitu SBY sedang memberikan contoh cara berpolitik yang fokus kepada kepentingan. Meskipun kejujuran sering kali harus ditinggalkan. Namun dari cara berpolitik seperti itu, penciteraan demi penciteraan telah diperoleh.

Barang kali, ini adalah pembangunan penciteraan diri terakhir dari SBY dalam sepuluh tahun masa pemerintahannya.  Pertanyaannya adalah, apakah kali ini bangun penciteraan ini akan bermanfaat bagi kepentingan Bangsa Indonesia kedepan, atau sebaliknya SBY akan menuai cemooh diakhir masa jabatannya? Rakyat tetap cerdas untuk menilai!








Tidak ada komentar:

Posting Komentar